h1

The Design Thinking Process

Februari 8,2017
 
The Design Thinking process first defines the problem and then implements the solutions, always with the needs of the user demographic at the core of concept development. This process focuses on needfinding, understanding, creating, thinking, and doing. At the core of this process is a bias towards action and creation: by creating and testing something, you can continue to learn and improve upon your initial ideas.
 
EMPATHIZE: Work to fully understand the experience of the user for whom you are designing. Do this through observation, interaction, and immersing yourself in their experiences.
 
DEFINE: Process and synthesize the findings from your empathy work in order to form a user point of view that you will address with your design.
 
IDEATE: Explore a wide variety of possible solutions through generating a large quantity of diverse possible solutions, allowing you to step beyond the obvious and explore a range of ideas.
 
PROTOTYPE: Transform your ideas into a physical form so that you can experience and interact with them and, in the process, learn and develop more empathy.
 
TEST: Try out high-resolution products and use observations and feedback to refine prototypes, learn more about the user, and refine your original point of view.
 
 
 
 design-thinking2-1024x459
h1

Januari 8,2017

Karena yang tepat belum tentu yang tercepat.

View on Path

h1

Januari 7,2017

View on Path

h1

Januari 7,2017

View on Path

h1

Mei 20,2016

Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya….
Untuk Indonesia Raya….

#HidupRakyatIndonesia
#DokterUntukBangsa
#IndonesiaSehat – at RSUD dr.Sayidiman Magetan

View on Path

h1

Mei 8,2016

Selamat Menempuh Hidup Baru Kenia & Novandi, semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah…. Barakallah…. – with ajeng, Kenia, Novandi, Prisca, and Pebe at Bangsal Pancasila UWK Surabaya

View on Path

h1

Sejarah Stetoskop

Mei 8,2013

A Treatise on the Diseases of the Chest and on Mediate Auscultation (1818), R. T. H. Laennec menjelaskan tujuan menempelkan telinga langsung ke dada: “Tindakan ini selalu tidak menyenangkan, baik bagi dokter maupun pasien; pada wanita, tindakan ini tidak saja lancang, tetapi juga sulit diterapkan dan bagi orang-orang yang berada di rumah sakit, tindakan ini menyebalkan.” Pada saat itu, dokter secara rutin melakukan kunjungan rumah dan mengobati hampir semua pasien di rumahnya. Hanya pasien amal yang pergi ke rumah sakit.

Laennec_-_Théobald_Chartran

Laennec menggunakan metode auskultasi langsung sampai tahun 1816 saat ia sedang memeriksa seorang gadis dengan gejala umum sakit jantung. Karena pasien tersebut gemuk, muda, dan perempuan, maka ia merasa bahwa metode pemeriksaan yang lazim tersebut tidaklah pantas. Namun, ia ingat bahwa apabila salah satu ujung dari sepotong kayu digores dengan jarum, suara yang timbul akan dapat didengar dengan jelas jika ujung kayu yang lain ditempelkan ke telinga. Ia dengan segera menggulung beberapa lembar kertas membentuk silinder dan menempelkan salah satu ujungnya ke telinganya dan ujung yang lain ke dada di atas jantung gadis tersebut. Hasilnya sangat dramatis dan mendorong Laennec menyempurnakan alatnya. Akhirnya ia menciptakan suatu silinder kayu berongga dengan panjang 30 cm dan diameter bagian dalamnya sekitar 1 cm serta diameter bagian luarnya 4 cm. Ia menyebut alat ini sebagai “stetoskop“, yang berarti “melihat dada”. Dalam bukunya, ia melaporkan risetnya mengenai stetoskop dan interpretasinya tentang bunyi alami dan patologis dari paru, jantung, dan suara.

10322024

 

Fungsi Stetoskop

Stetoskop yang saat ini digunakan didasarkan pada karya asli Laennec. Bagian-bagian utama pada stetoskop modern adalah sungkup (bell), yang mungkin terbuka atau tertutup oleh membran tipis, dan earpieces.

stethoscope_monaural_Laennec_2nd_model_apart

Sungkup terbuka (open bell) berfungsi untuk menyesuaikan/menyamakan impedansi antara kulit dan udara. Bagian ini menghimpun suara dari daerah yang berkontak. Kulit pasien yang bersentuhan dengan sungkup terbuka berfungsi seperti diafragma. Kulit pasien memiliki frekuensi resonan alami yang efektif untuk menghantarkan bunyi jantung.

Frekuensi resonan ditentukan oleh diameter sungkup dan tekanan sungkup pada kulit. Semakin kencang kulit tertarik, semakin tinggi frekuensi resonan. Semakin besar diameter sungkup, semakin rendah frekuensi resonan kulit. Rentang suara yang diinginkan dapat diperluas dengan mengubah ukuran sungkup dan mengubah-ubah tekanan sungkup terbuka terhadap kulit (sehingga ketegangan pada kulit juga berbeda). Murmur jantung berfrekuensi rendah tidak akan terdengar apabila stetoskop terlalu kencang ditekan ke kulit.

Sungkup tertutup (closed bell) sebenarnya hanyalah sebuah sungkup yang memiliki diafragma dengan frekuensi resonan tertentu, biasanya tinggi, dan menghambat suara-suara berfrekuensi rendah. Frekuensi resonannya dikendalikan oleh faktor-faktor yang sama dengan faktor yang mengatur frekuensi sungkup terbuka yang ditekankan ke kulit. Stetoskop sungkup tertutup terutama digunakan untuk mendengarkan bunyi paru yang frekuensinya lebih tinggi daripada bunyi jantung.

Apa bentuk sungkup yang terbaik? Karena kita menghadapi suatu sistem yang tertutup di salah sate ujung jauhnya oleh diafragma peka tekanan—gendang telinga—sebaiknya digunakan sungkup yang volumenya sekecil mungkin. Semakin kecil volume gas di dalam sungkup, semakin besar perubahan tekanan yang ditimbulkan oleh gerakan diafragma di ujung lonceng yang lain.

Volume selang juga harus kecil, dan seyogianya suara yang hilang akibat gesekan dengan dinding selang sedikit. Restriksi oleh volume yang kecil menunjukkan selang pendek berdiameter kecil, sedangkan restriksi oleh gesekan yang kecil menunjukkan selang berdiameter besar. Oleh karena itu, apabila diameter selang terlalu kecil, banyak suara yang akan hilang akibat gesekan. Apabila diameter terlalu besar, maka volume udara yang dipindahkan menjadi terlalu banyak. Pada keduanya, efisiensi berkurang. Di bawah sekitar 100 Hz, panjang selang tidak banyak memengaruhi efisiensi, tetapi• di atas frekuensi ini, efisiensi berkurang seiring dengan semakin panjangnya selang. Pada 200 Hz, perubahan selang dari panjang 7,5 cm menjadi 66 cm menyebabkan kehilangan 15 dB. Suatu keputusan yang disepakati adalah selang dengan panjang sekitar 25 cm dan berdiameter 0,3 cm.

Earpiece harus terpasang pas di telinga karena kebocoran udara mengurangi suara yang terdengar. Semakin rendah frekuensi, semakin bermakna kebocoran tersebut. Kebocoran juga menyebabkan suara bising di sekitar kita masuk ke telinga. Earpiece biasanya dirancang untuk mengikuti arah saluran telinga yang sedikit condong ke depan.

F5.large

Kini, berkat ide dan penemuan stetoskop Laennec, para dokter tidak perlu lagi menempelkan telinga ke dada pasien untuk mendengarkan suara jantung tentunya!

 

http://pendekarkedokteran.wordpress.com/2013/05/01/sejarah-stetoskop/